Pasar mobil murah (LCGC) terancam penjualannya oleh mobil listrik BYD Atto 1
Momo Harun
|20 Juli 2026

Pasar Low Cost Green Car (LCGC) lima penumpang di Indonesia kini tidak lagi menjadi panggung eksklusif bagi mobil konvensional bermesin bensin.
Konsumen dengan anggaran terbatas yang dulunya hanya memiliki pilihan seperti Honda Brio Satya, Toyota Agya, atau Daihatsu Ayla, kini disuguhkan alternatif mobil listrik (Electric Vehicle/EV) berteknologi modern dengan harga yang sangat kompetitif.

Kehadiran BYD Atto 1 di segmen hatchback city car menjadi tantangan serius bagi dominasi pabrikan Jepang.
Dengan harga terjangkau mulai dari Rp 199 juta, mobil listrik ini berhasil mencuri perhatian calon pembeli yang ingin beralih ke kendaraan ramah lingkungan tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
Berdasarkan data wholesales (distribusi dari pabrik ke diler) yang dirilis oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) periode Januari hingga Juni 2026, Honda Brio Satya masih berhasil mempertahankan posisinya di puncak klasemen LCGC dua baris dengan penjualan mencapai 12.227 unit.
Namun, posisi runner-up kini ditempel ketat oleh BYD Atto 1 yang membukukan angka penjualan fantastis sebesar 10.116 unit.

Pencapaian BYD Atto 1 ini menggeser performa dua pemain lama. Toyota Agya harus puas berada di urutan berikutnya dengan total 7.312 unit, diikuti oleh Daihatsu Ayla yang mencatatkan angka 4.383 unit.
Secara volume, torehan satu model EV seperti BYD Atto 1 bahkan nyaris melampaui gabungan penjualan Toyota Agya dan Daihatsu Ayla.
Fenomena ini berdampak langsung pada total pasar LCGC nasional (termasuk model 7-seater seperti Toyota Calya dan Daihatsu Sigra).

Sepanjang semester pertama tahun 2026, total penjualan LCGC tercatat hanya 55.506 unit. Angka ini merosot tajam sebesar 18,4 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sempat menyentuh 68.038 unit.
Penurunan performa penjualan ini menjadi sinyal peringatan serius bagi para pabrikan otomotif konvensional.

Dominasi "mobil murah" berbahan bakar fosil yang selama ini kuat mulai goyah akibat gempuran kendaraan listrik dengan kisaran harga Rp 100 jutaan hingga Rp 200 jutaan yang menawarkan efisiensi dan fitur modern bagi masyarakat Indonesia.